Tags

, , , , ,

Kenali dan Cegah Rabies

Kasus rabies mengalami peningkatan di Bali, Nias dan Maluku Tenggara Barat dengan 165 kasus, Dari jumlah itu, kasus terbanyak terdapat di Bali yaitu 119 kasus, disusul Nias 26  kasus dan Pulau Lara Maluku Tenggara Barat 20  kasus. Karena kasus penularan dan kematian meningkat, ketiga wilayah tersebut dinyatakan terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) Rabies. Sepanjang tahun 2010 secara nasional telah terjadi 74.858 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR), 195 diantaranya berakhir pada kematian.

Apakah penyakit rabies itu?

Rabies yang juga dikenal dengan penyakit anjing gila, lyssa, hydrophobia, rage, tollwut merupakan penyakit yang sangat mematikan, menular dan tidak dapat disembuhkan. Penyakit ini hanya bisa dicegah dengan pembersihan luka yang baik dan pemberian vaksinasi.

Penyakit rabies merupakan penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat, disebabkan oleh virus rabies, menyerang hewan berdarah panas termasuk manusia, yang  ditularkan melalui gigitan hewan penular rabies terutama anjing, kucing, kera, kelelawar, dan selalu diakhiri dengan kematian. Virus rabies termasuk golongan Rhabdovirus dan genus Lyssa virus, berbentuk seperti peluru. Dapat mati dengan zat-zat pelarut lemak, seperti sabun, deterjen, chloroform, aether dan sebagainya. Virus ini cepat mati juga dengan sinar ultraviolet, dengan pemanasan 60 °C selama 5 menit dan dapat bertahan berbulan-bulan pada suhu -4 °C.

Hewan apa saja yang menjadi penular rabies?

Yang menjadi hewan penular utama/vector virus rabies di Indonesia adalah anjing (98%) dan juga hewan lainnya seperti kera, kucing dan kelelawar yang memiliki kecendrungan yang rendah. Penyakit rabies ini bisa menyerang siapa saja tidak mengenal umur maupun jenis kelamin dan semua beresiko terkena penyakit ini.

Penyakit rabies merupakan penyakit yang sangat menular. Penularan rabies kepada manusia maupun hewan lainnya melalui luka gigitan, jilatan pada kulit yang lecet, selaput lendir mulut, hidung, mata, anus dan genitalia. Penularan dari orang ke orang (langsung) mungkin dapat terjadi melalui saliva penderita rabies, tetapi belum pernah dilaporkan di Indonesia dan transplantasi kornea mata.

Bagaimana mengenali hewan penular rabies?

Gejala rabies pada hewan curiga rabies adalah hewan menjadi agresif. Secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas, akan menggigit hewan lain bahkan manusia atau benda apa saja yang bergerak. Menggigit apa saja termasuk kotoran sendiri, kayu, batau atau tempat makan dan minum hewan. Apabila hewan di kandang, maka akan menggigit besi dan kawat di kandangnya, tapi tidak akan ditelan oleh hewan tersebut. Hewan tersebut juga mengalami hypersalivasi (mengeluarka ludah berlebihan) dan ekornya berselip diantara kedua kaki belakang.

Bagaimana gejala dan tanda penyakit rabies?

Masa inkubasi penyakit Rabies pada manusia bervariasi, biasanya berkisar antara 2-8 minggu, kadang-kadang 9 hari sampai  1 tahun, tergantung keadaan luka gigitannya, lokasi luka gigitan, jumlah virus dan strain virus. Luka gigitan yang lebih dekat dengan susunan saraf pusat seperti wajah, kepala dan leher memiliki resiko masa inkubasi yang lebih cepat. Pada hewan berkisar antara 15 – 50 hari.

Gejala-gejala penyakit ini berbeda tergantung proses perjalanan penyakit dan dibedakan menjadi 4 stadium. Gejala awal ditandai dengan keluhan demam, nyeri kepala, malaise/lemas, hilangnya nafsu makan dan mual (stadium prodromal/paling dini). Dan penyakit berkembang ke stadium berikutnya yaitu stadium sensoris yang ditandai dengan rasa gugup, gelisah, hiperhidrasi, hipersalivasi (keluar air liur yang banyak), hiperlakrimasi (berkeringat banyak) dan dilatasi pada pupil/orang orangan mata melebar. Pada tahapan berikutnya virus semakin banyak menyebar disusunan saraf pusat yang ditandai dengan penderita semakin belisah, sering kaget, nyeri kepala yang hebat, takut pada udara (aerophobia), takut kepada cahaya (fotofobia), dan takut kepada air (hidrofobia). Dan stadium yang terakhir virus semakin banyak berkembang di susunan saraf pusat dan tubuh tidak mampu melawan virus ini sehingga mengakibatkan inkontinesia urine, koma dan akhirnya menuju ke kematian.

Bagaimana Pengobatan dan pencegahannya?

Sampai saat ini penyakit rabies belum ada obatnya sehingga upaya pencegahan menjadi sasaran utama dalam menurunkan angka kematian penyakit ini. Upaya pencegahan penyakit rabies melibatkan berbagai lintas sektoral terutama pelayanan kesehatan medis dan dinas peternakan. Dalam artikel ini yang penulis bahas hanyalah pencegahan dalam lingkup pelayanan kesehatan pertama baik di pelayanan kesehatan pribadi/masyarakat, puskesmas dan rumah sakit daerah. Upaya pencegahan di bidang pelayanan medik terdiri atas penyuluhan kesehatan tentang pengetahuan penyakit rabies, cara pembersihan luka pertama kali setelah digigit hewan penular rabies dan penanganan luka lanjutan serta vaksinasi di pusat layanan kesehatan/rabies center. Yang paling tidak kalah penting adalah peranan masyarakat dalam penanggulangan penyakit ini.

Apa yang harus dilakukan jika tergigit hewan penular rabies?

Bila terjadi kasus gigitan hewan tersangka/rabies, segera lakukan wound toilet yaitu pencucian luka gigitan dengan sabun/detegent  atau pelarut lemak lain dengan air mengalir selama 10 – 15 menit, kemudian diberi antiseptik alkohol 70%, betadin, dan lain-lain, lalu segera dibawa ke “ Rabies Center “ , puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk pengobatan selanjutnya. Setelah perawatan luka lanjutan, diberikan vaksinasi vaksin anti rabies (VAR) yang diberikan sebanyak 2 kali dosis untuk hari ke-0 saat setelah luka gigitan yaitu di lengan tangan kanan dan kiri. Dan pemberian vaksin selanjutnya sesuai dengan protap yaitu pada hari ke-7 dan hari ke 21 (menerut prosedur tetap dinas kesehatan). Selain pemebrian VAR, anti tetanus bisa juga diperlukan sesuai dengan petunjuk dokter.