Tags

, , ,

Suara nyanyian burung seraya menghentikan nafasku di dalam dunia mimpi di kala subuh tiba di saat sang Surya belum bangun dari tidurnya. Kutaruh pandanganku ke timur langit yang masih gelap, sang surya belum tampak sepertinya masih dalam kandungan seorang ibu. Sang Surya masih tertidur dengan nyenyaknya. Lantunan suara merdu nan suci yang berkumandang, Gayatri mamtram, menyambut lahirnya kembali sang surya dan membukanya mata alam semesta ini. Nyanyian burung-burung menyambut hadirnya mentari mengisyaratkan mereka juga ikut menyanyikan lagu suci ini. Ini adalah kelahiran kembali sang surya yang membuka matanya dan mulai memberi pencerahan kepada semua mahkluk. Engkau menangis kebahagiaan seperti anak yang baru lahir dari kandungan ibunya. Suara tangismu adalah aksara suci OM yang memberikan aura kebahagiaan ke semua alam semesta.

Seberkas sinar putih kekuningan yang diberikan kepada setiap mahkluk seakan mengingatkanku dari mana sebenarnya aku berasal. Aku adalah seberkas sinar suci-Mu.

Di saat mentari memberikan sinarnya yang merdu, mendung mulai menyembunyikan diri-Mu dan Dewa Wisnu pun turun menghilangkan segala kehausan dan menyucikan segala isi alam semesta ini dengan tirta kebahagiaan, laksana Dewi Laksmi yang selalu memberikan kasih sayang dan kemakmuran.

Rumput hijau, pepohonan akasia dengan bunganya, bunga bermekaran, gemericik air hujan gerimis dan nyanyian burung menandakan suatu kata sambutan kebahagian di kala ini. Kala ini adalah bulan kartika atau sasih kapat. Sasih yang penuh keindahan, kasih sayang, aura spiritual yang tinggi dan kebahagiaan.

Jaman dahulu sasih ini adalah sasih bagi para penikmat keindahan, seni dan mulai menampaki dunia spiritual. Sinar matahari yang tidak panas karena diliputi mendung dengan gerimis air hujan adalah pertanda sasih ini adalah bulan kartika, bulan yang indah untuk merenungkan keindahan dan kebahagiaan Sang Hyang Widhi yang selalu memberikan rahmatnya kepada semua mahkluk.

Sekitar akhir bulan september-awal Oktober kita memasuki bulan Kartika ini, yang oleh masyarakat luas dikenal sebagai “sasih Kapat”, bulan yang ke-empat. Bulan ketika bunga-bunga bermekaran, ketika bau harum diterbangkan angin dan meliputi alam. Dan pada tahun ini, sasih kapat/bulan kartika dimulai pada tanggal 28 September 2011 dan puncaknya adalah pada purnama kapat, 11 Oktober 2011, dimana hari yang sangat suci untuk melakukan yoga samadhi.

Kartika mendapat perhatian istimewa para “pendamba keindahan”, para kawi yang suka angdon lango, menikmati keindahan. Karena kartika adalah bulan penuh keindahan (kalangwan), bulan yang dihiasi riris (hujan gerimis) dan suara guntur yang lemah di kejauhan.

Orang yang memulai suatu pekerjaan segala bidang dimulai pada sasih ini terutama belajar spiritual. Namun pada saat kini, orang sudah melupakan tradisi ngapat ini karena dipengaruhi oleh kemajuan teknologi.

Kidung Warga Sari adalah salah satu nyanyian kebahagiaan dan keindahan alam ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang merupakan hasil karya seni sejak jaman dahulu yang dibuat pada masa kartika ini.

Sebuah kidung Wargasari mengawali bait-baitnya dengan lukisan bulan Kartika, Sebuah kidung yang populer tetapi juga disucikan, bahwa seorang penyair mengawali menulis “keindahan” hutan dan gunung, ketika hujan gerimis, ketika bunga-bunga bermekaran, ketika masa Kartika.

Purwakaning angripta rum,

ning wana ukir kahadang labuh, 

kartika panèdènging sari, 

angayon tangguli kètur, 

angring-ring jangga mure. 

Sukania harja winangun winarne sari.

Rumrumning puspa priyaka, ingoling tangi.

Sampun ing riris sumar. Umungguing srengganing rejeng

Yang artinya, sebagai berikut:

PURWAKA (pada permulaan) NING (nya), ANGRIPTA (menggugah)RUM (keindahan). NING (di)WANA (hutan) WUKIR (pegunungan), KAHADANG (ketika) LABUH KARTIKA (awal musim hujan sasih kapat) PANDHEHENING SARI (sedang rimbunnya berbunga) ANGAYON (pohon) TANGGULI KETUR (nama sejenis akasia yang bunganya berwarna lembayung)ANGRINGRING (berbentuk tirai) JANGGA (bunga gadung-pun) MURE (sedang mekar)

SUKANIYA (keindahannya) ARJA (yang mengagumkan) WINANGUN (telah diciptakan Hyang Widhi) WINARNA SARI (diumpamakan sebagai keajaiban tubuh manusia) RUMRUMING PUSPA PRIYAKA (seperti keindahan bunga sulasih) INGOLING TANGI (yang merangkul pohon tangi = sejenis akasia berbunga merah) SAMPUNING (setelah) RIRIS (hujan) SUMARU (tersebar merata) MUNGGUWING (dipuncak) SRENGGANING (bebatuan) REJENG (pegunungan)

Begitu indahnya bulan kartika/sasih kapat yang dituangkan dalam lantunan kidung warga sari, seniman spiritual kita jaman dahulu menggambarkan keindahan dan kebahagiaan ini dalam suatu karya seni nyanyian kidung yang diwariskan sampai sekarang. Dengan melantunkan kidung ini,  dapat membantu merasakan keindahan dan kebahagiaan akan keagungan Ida Sang Hyang Widhi seraya lebih mendekatkan diri dengan Beliau Yang Maha Suci.

Semoga selalu diberikan pancaran sinar pencerahan kebahagian dan kedamaian di bulan kartika ini.

Pustaka: parisada.org, iloveblue.com, saradbali