Tags

, , ,

Secara sadar maupun tidak sadar, tujuan kehidupan sekarang ini dipengaruhi oleh ekonomi, uang adalah yang utama. Orang atau keluarga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dituntut untuk mencari uang dengan bekerja sekeras-kerasnya. Begitu pula orang yang sangat mampu, tidak sedikit untuk menambah pendapatannya sehingga pepatah “orang kaya semakin kaya dan miskin semakin miskin” masih tetap berlaku. Jurang pemisah yang sangat dalam ini semata karena status ekonomi. Ini adalah era ekonomi, dimana aspek ekonomi yang menjadi faktor utama, mengungguli aspek kehidupan lainnya dan menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap aspek kehidupan lainnya. Apalagi prinsip ekonomi yang tanpa didasari oleh aspek lainnya seperti moral, ini sangat berbahaya; contoh korupsi. Jangan jauh-jauh anda mencari contoh, di negeri kita tercinta ini. Wajarlah kalau tindakan kriminal yang kita lihat dan baca di media massa, semata lebih banyak karena pengaruh ekonomi. Apa yang salah dalam hal ini? apakah sistem ekonomi ataukah moral??

Aspek ekonomi juga sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Jika saya berikan pilihan kepada anda: mana yang akan anda pilih, bekerja dengan bayaran secukupnya tanpa mengganggu jumlah istirahat anda dan keluarga ataukah bekerja seharian dengan jumlah bayaran yang sangat besar tetapi istirahat hanya 6 jam? Tidak sedikit yang memilih pilihan yang kedua, mengapa demikian? karena manusia adalah manusia, mahkluk berpikir. Kebutuhan baru akan timbul setelah kebutuhan yang lainnya tercapai. Kebutuhan yang lebih dominan saat ini adalah material yang sejalan dengan kemajuan teknologi. Yang dulu kita punya ponsel yang cukup pakai telepon dan sms, sekarang sudah ada smartphone. Kalau diperlukan untuk seperlunya ya tidak masalah sesuaikan dengan kebutuhan anda. Sudah punya mobil yang cukup untuk keluarga tetapi ingin update lagi yang lebih baru tetapi pendapatan belumlah memadai, maka bekerja sekeras-kerasnya dengan cukup istirahat 6 jamlah jawabannya. Anda tinggal memilih Kebahagiaan mana yang anda pilih, kebahagiaan material ataukah kebahagiaan dalam kesederhanaan tetapi cukup waktu istirahat dan keluarga.

Ini bukanlah suatu muluk-muluk, karena ada suatu studi penelitiaan Cornell di amerika tentang kenyataan ini.Anda mungkin berpikir kebahagiaan sebagai tujuan akhir, namun kenyataannya, orang berpikir tentang tujuan seperti kesehatan, kebahagiaan keluarga dan status sosial karena kadang-kadang bersaing dengan kebahagiaan, “kata Alex Rees-Jones, mahasiswa doktoral ekonomi Cornell dan co-penulis makalah yang akan diterbitkan dalam jurnal Tinjauan Ekonomi Amerika mendatang. Rekan- penulis termasuk asisten profesor ekonomi Dan Benjamin dan Ori Heffetz, serta Profesor Universitas Michigan Miles Kimball, “Kami menemukan bahwa orang-orang membuat trade-off antara kebahagiaan dan hal lainnya, “Rees-Jones mengatakan.” Misalnya, mereka secara eksplisit mengatakan kepada kita, mereka akan lebih bahagia pada satu cara, tetapi keluarga mereka akan lebih bahagia jika mereka mengambil pilihan pekerjaan dengan bayaran yang lebih tinggi. “Mereka juga mengatakan bahwa mereka kadang-kadang bersedia untuk memilih pekerjaan yang mereka pikir akan membawa kebahagiaan lebih sedikit untuk diri mereka sendiri jika mereka pikir itu akan menghasilkan tujuan rasa yang lebih besar  seperti status sosial yang lebih tinggi, lebih besar rasa kontrol atau lebih tinggi tingkat kebahagiaan keluarga mereka, Rees-Jones mengatakan.

Penelitian ini meminta lebih dari 2.600 survei peserta (termasuk 633 Mahasiswa Cornell) untuk mempertimbangkan berbagai skenario, termasuk pilihan antara pekerjaan $ 80,000 dengan jam kerja yang wajar dan tujuh dan setengah jam tidur setiap malam, atau $ 140, 000 pekerjaan dengan jam kerja yang panjang dan waktu hanya enam jam tidur.

Subyek kemudian diminta pilihan yang akan membuat mereka lebih bahagia. “Rata-rata, ada  perbedaan yang sistematis antara apa yang orang pilih dan apa yang orang pikirkan akan membuat mereka bahagia, “Rees- Jones mengatakan. “Misalnya, orang yang lebih cenderung memilih yang lebih tinggi pendapatan / pekerjaan rendah-tidur  bahkan ketika mereka tidak berpikir itu akan membuat mereka lebih bahagia. ” Para penulis “ingin melihat jika orang mencoba untuk menjadi sebahagia mungkin, “Rees-Jones mengatakan.

Setelah survei, subjek bertanya apakah mereka berpikir tanggapan mereka berada dalam kesalahan. “Hanya 7 persen mengatakan kepada kami bahwa mereka pikir mereka membuat kesalahan, “Rees- Jones mengatakan. “Ketika kami bertanya apakah mereka akan menyesal pada setiap kasus di mana mereka memiliki perbedaan antara pilihan dan kesejahteraan, 23 persen mengatakan ya.

Dalam kedua kasus besar mayoritas mengatakan tidak, itu bukan kesalahan, dan tidak, mereka tidak akan menyesal. ” “Secara keseluruhan, ini menunjukkan bahwa banyak bersedia untuk mengejar pengorbanan kebahagiaan dalam mendukung tujuan penting lainnya, “kata Rees- Jones. “Ini responden tampaknya menunjukkan bahwa memaksimalkan kebahagiaan tidak menjadi ketertarikan yang sangat utama. Namun, bahkan jika kebahagiaan hanyalah salah satu dari banyak tujuan, itu masih prekditor pilihan tunggal terkuat dalam data kami. ”

Dari studi tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan bukanlah tujuan utama kehidupan melainkan hanya salah satu tujuan dari tujuan kehidupan lainnya. Kebahagiaan pada diri masih berada dibawah status sosial, status ekonomi dan rasa membahagiakan keluarga dengan materi dengan mengorbankan diri sendiri.

Tujuan hidup mencari kebahagian terletak pada diri anda sendiri, terletak pada pikiran anda dan kemana kaki anda akan melangkah. Ini sebagaimana yang diwariskan oleh para filsuf-filsuf terkenal di dunia.

Sumber: http://www.physorg.com