Tags

,

Mungkin anda pernah mendengar istilah “Kanda Pat”, terutama masyarakat hindu di Bali. Kanda pat merupakan salah satu pengetahuan budaya Bali, filsafat, mithologi yang diwariskan oleh nenek moyang masyarakat Bali sejak zaman dahulu. Kanda pat juga dikenal dengan istilah “Catur Sanak”, nyame papat atau saudara empat, yang hampir mirip dengan budaya di jawa. Mitologi kanda pat merupakan pengetahuan spiritual yang dilestarikan sampai sekarang oleh masyarakat bali.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan modern dan pengaruh globalisasi, pengetahuan budaya ini pada masyarakat Bali semakin berkurang karena banyak dipengaruhi oleh kemajuan teknologi di segala bidang baik informasi, hiburan dan sebagainya. Mungkin ada yang tahu hanya istilahnya saja, tetapi belum mengerti secara mendalam. Sehingga ada istilah “nak mule keto” pada masyarakat Bali. Mitologi kanda pat sangat erat kaitannya dengan upacara-upacara keagamaan dan adat di Bali. Sehingga pengetahuan ini sepatutnya perlu diketahui walaupun hanya sekapur sirih saja, percuma kita banyak menghabiskan biaya banyak untuk segala macam upacara keagamaan namun kita tidak tahu maknanya.

Ada juga pendapat lain bahwa ilmu kanda pat adalah ilmu untuk balian, ilmu kesaktian, ilmu pengobatan. Hal tersebut sepenuhnya tidaklah benar. Mulailah mengenal diri kita sendiri, budaya kita sendiri sebelum mengenal orang lain maupun budaya orang lain.

Permasalahan sosial, perdebatan sampai pada tindakan-tindakan yang dilarang agama sebenarnya disebabkan oleh rapuhnya jati diri kita sendiri. Untuk mencapai kebahagian dan keselamatan semua orang harus dimulai dari mencari kebahagian pada diri kita sendiri, kebahagian jasmani maupun rohani. Dalam istilah Bali, kita kenal istilah “Mulat Sarira”, mudah-mudahan kata ini bukan hanya sebatas kata-kata saja, mari kita mencari jati diri kita dengan menambah wawasan ilmu pengetahuan.

Istilah Kanda Pat terdiri atas dua kata yaitu “kanda” dan “Pat”. Kanda yang disebut juga skanda, tetapi lumbrah disebut Kanda yang berarti bagian-bagian. Pat berasal dari kata papat atau catur yang berarti empat. Kalau digabungkan menjadi bagian-bagian yang berjumlah empat. Bagian tersebut tidak lain adalah bagian badan spritual kita, kekuatan-kekuatan Hyang Widhi yang selalu menyertai roh (Atman) manusia sejak embrio sampai meninggal dunia mencapai Nirwana. Bagian-bagian ini juga dikenal dengan saudara-saudara yang berada dalam badan kita yang berjumlah empat.

Saudara kita yang berjumlah empat tersebut selalu menyertai kita dari sejak dalam kandungan, lahir, hidup dan sampai kita mati. Saudara empat kita ini senantiasa menjaga kita selama semasa kita hidup. Tetapi ada kalanya saudara kita menjauh apabila tidak anda ingat sehingga tidak akan menjaga anda. Ini kembali kepada keyakinan diri kita sendiri akan kanda pat tersebut, kalau anda yakin dengan saudara kita niscaya anda akan selalu dijaga. Pernahkah anda meoton? Otonan itu sendiri merupakan penghormatan dan memanggil saudara empat kita untuk selalu menjaga kita. Oleh karena itu, masyarakat bali hendaknya jangan lupa untuk meoton setiap 6 bulannya.

Dalam filsafat agama hindu, kanda empat ini tidak lain adalah badan prakerti kita yang berasal dari pengaruh panca Mahabhuta. Keempat teman yang abstrak ini menyertai terus sampai manusia mati dan rohnya menghadap ke Hyang Widhi. Mereka juga menjaga dan melindungi roh, serta mencatat sejauh mana atman (roh) terpengaruh oleh indria keduniawian. Semua pengalaman hidup di record oleh Sang Suratma yang dahulu berbentuk ari-ari. Inilah catatan subha dan asubha karma yang menjadi penilaian dan pertimbangan kesucian roh untuk menentukan tercapainya moksa (bersatunya atman-brahman) ataukah samsara (menjelma kembali). Kanda pat ada dalam diri/ tubuh manusia, namun ketika tidur, kandapat keluar dari tubuh. Maka mereka perlu dibuatkan pelinggih berupa “pelangkiran” di kamar tidur, tempat bersemayamnya kanda pat ketika kita tidur pulas.

Selain sebagai penjaga kita, kanda pat juga dapat digunakan untuk dalam bidang pengobatan dan lain sebagainya, ini mungkin diketahui oleh para ahli spiritual Bali. Untuk kita cukup untuk memperoleh keselamatan kita, karena jika anda terlalu mendalami kemungkinan menjadi takabur. Oleh karena itu, sebelum mendalami kanda pat, pondasi dasarnya adalah agama/Weda.

Sesuai peranan dan fungsinya, filsafat Kanda Pat terdiri atas empat, antara lain:

  1. Kanda Pat rare
  2. Kanda Pat Bhuta
  3. Kanda Pat Sari
  4. Kanda Pat Dewa

Keempat kanda pat tersebut akan dibahas satu persatu pada artikel selanjutnya karena pengetahuan ini sangat luas dan menghindari kebingungan untuk mempelajarinya. Pada intinya, untuk memohon selalu dijaga dan keselamatan tetaplah berdoa kepada Tuhan dan selalu memanggil saudara empat kita dikala kita makan, tidur dan sembahyang kepada Tuhan.

Semoga bermanfaat

Bayu adhy