Tags

, , ,

Sesuai dengan kodratnya,  wanita akan mengalami haid, kehamilan, melahirkan dan menyusui bayi. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), dimulai sejak janin dalam kandungan, masa bayi, balita, anak-anak sampai dewasa. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada bayi merupakan cara terbaik bagi peningkatan kualitas SDM sejak dini yang akan menjadi penerus bangsa. ASI merupakan makanan yang paling sempurna bagi bayi. Pemberian ASI berarti memberikan zat-zat gizi yang bernilai gizi tinggi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan syaraf dan otak, memberikan zat-zat kekebalan terhadap beberapa penyakit dan mewujudkan ikatan emosional antara ibu dan bayinya.

Dari survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrition & Health Surveillance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di empat perkotaan (Jakarta, Surabaya, Semarang, Makasar) dan delapan pedesaan (Sumbar, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, NTB, Sulsel), menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif 4-5 bulan di perkotaan antara 4%-12%, sedangkan dipedesaan 4%-25%. Pencapaian ASI eksklusif 5-6 bulan di perkotaan berkisar antara 1%-13% sedangkan di pedesaan 2%-13%.

Mengingat pentingnya pemberian ASI bagi tumbuh kembang yang optimal baik fisik maupun mental dan kecerdasannya, maka perlu perhatian agar dapat terlaksana dengan benar. Faktor keberhasilan dalam menyusui adalah dengan menyusui secara dini dengan posisi yang benar, teratur dan eksklusif. Oleh karena itu salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana ibu dapat  memberikan ASI kepada bayinya secara eksklusif sampai enam bulan dan dapat dilanjutkan sampai anak berumur dua tahun. Program Peningkatan Pemberian ASI khususnya ASI eksklusif mempunyai dampak yang luas terhadap status gizi ibu dan bayi.

Pemberian ASI di Indonesia belum dilaksanakan sepenuhnya. Upaya meningkatkan perilaku menyusui pada ibu yang memiliki bayi khususnya ASI eksklusif masih dirasa kurang. Permasalahan yang utama adalah faktor sosial budaya, kesadaran akan pentingnya ASI, pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung PP-ASI, gencarnya promosi susu formula dan ibu bekerja.

Definisi ASI Eksklusif

Pemberian ASI secara Eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi tanpa makanan tambahan apapun seperti pisang, bubur susu, tim saring atau cairan apapun seperti air putih, teh dan sebagainya termasuk susu formula. Pedoman internasional yang menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama didasarkan pada bukti ilmiah tentang manfaat ASI bagi daya tahan hidup bayi, pertumbuhan, dan perkembangannya. ASI memberi semua energi dan gizi (nutrisi) yang dibutuhkan bayi selama enam bulan pertama hidupnya. Pemberian ASI eksklusif mengurangi tingkat kematian bayi yang disebabkan berbagai penyakit yang umum menimpa anak-anak seperti diare dan radang paru, serta mempercepat pemulihan bila sakit dan membantu menjarangkan kelahiran.

Komposisi ASI

Komposisi ASI yaitu air 88,1%, Laktosa 7,0%, Lemak 3,8%, Protein 0,9% dan lain-lain 0,2%. Kandungan air dalam ASI yang diminum bayi selama pemberian ASI eksklusif sudah mencukupi kebutuhan bayi dan sesuai dengan kesehatan bayi. Bahkan bayi baru lahir yang hanya mendapat sedikit ASI pertama (kolostrum – cairan kental kekuningan), tidak memerlukan tambahan cairan karena bayi dilahirkan dengan cukup cairan di dalam tubuhnya. ASI dengan kandungan air yang lebih tinggi biasanya akan ‘keluar’ pada hari ketiga atau keempat. Salah satu fungsi utama air adalah untuk menguras kelebihan bahan-bahan larut melalui air seni. Zat-zat yang dapat larut (misalnya sodium, potasium, nitrogen, dan klorida) disebut sebagai bahan-bahan larut. Ginjal bayi yang pertumbuhannya belum sempurna hingga usia tiga bulan, mampu mengeluarkan kelebihan bahan larut lewat air seni untuk menjaga keseimbangan kimiawi di dalam tubuhnya. Oleh karena ASI mengandung sedikit bahan larut, maka bayi tidak membutuhkan air sebanyak anak-anak atau orang dewasa.

Sebagai sumber energi bayi memerlukan karbohidrat yang cukup untuk mencegah ketosis atau hipoglikemia dan cukup lemak untuk menyediakan asam lemak esensial ternyata bayi juga memerlukan long chain poly unsaturated fatty acid (LC-PUFA). Asam lemak ini terdiri dari delapan belas rantai karbon dengan dua atau lebih ikatan rangkap. Dua diantaranya yang paling diperlukan bayi adalah arachidonic acid dan docosahexaenoic acid (DHA) yang berguna untuk kecerdasan bayi. Sebagai sumber protein ASI mengandung asam amino esensial yang diperlukan bayi seperti: cystein, tyrosine dan arginin. Selain itu pada ASI juga terdapat colustrum. Colustrum mengandung gizi yang tinggi dan zat antigen yang digunakan untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan dapat melindungi bayi dari berbagai serangan virus, bakteri dan jamur.

Keuntungan dan Manfaat Pemberian Air Susu Ibu

Bagi Ibu

Melindungi kesehatan ibu (mengurangi perdarahan pasca persalinan, mengurangi risiko kanker payudara dan indung telur, mengurangi anemia).

Selama ASI digunakan, produksi hormon oksitosin berlangsung terus. Salah satu manfaat oksitosin adalah mengkerutkan otot-otot polos rahim dan pembuluh darahnya. Efek ini akan maksimal jika setelah melahirkan, ibu langsung menyusui bayinya. Hal ini akan mengakibatkan penyempitan pembuluh darah yang terbuka saat melahirkan sehingga perdarahan berhenti.

Pemberian ASI Eksklusif  juga menurunkan resiko kanker payudara dan kanker ovarium pada ibu-ibu. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan, didapatkan kenyataan bahwa ibu-ibu yang memberikan ASI Eksklusif memiliki resiko terkena kanker payudara dan kanker ovarium 24% lebih kecil dibandingkan dengan ibu-ibu yang tidak menyusui secara eksklusif. Namun mekanismenya belum bisa dipahami dengan pasti. Keuntungan yang lainnya adalah dapat memperpanjang kehamilan berikutnya (fungsi kontrasepsi). Pemberian ASI eksklusif bisa juga sebagai alat kontraepsi alamiah. Fungsi kontrasepsi ini baru efektif bila selama pemberian ASI eksklusif ibu belum mengalami menstruasi.

Bagi bayi

  1. ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi.
  2. Imunitas (mengurangi risiko diare, infeksi jalan nafas, alergi dan infeksi lainnya).
  3. Aspek psikologis (mempererat hubungan ibu dan bayi, meningkatkan status mental dan intelektual).

Bagi keluarga

  1. Peningkatan status kesehatan dan gizi ibu dan bayinya.
  2. Penghematan biaya.

Bahaya pemberian susu botol 

Bahaya pemberian susu botol di kota-kota tidak begitu nyata. Lain halnya di pedesaan dimana sarana seperti pengadaan air bersih yang kurang baik, pendidikan ibu kurang dan juga keadaan sosial ekonomi kurang baik. Susu botol dapat mengakibatkan meningkatnya morbiditas diare karena kuman  dan moniliasis mulut yang meningkat, sebagai akibat dari pengadaan air dan sterilisasi yang kurang baik. Bahkan bisa terjadi marasmus pada bayi karena kesalahan dalam penakaran susu sebagai akibat dari pendidikan dan keadaan sosial ekonomi yang kurang baik.

Khusus mengenai kekurangan kalori dan protein pada bayi (infantile malnutrition, marasmus) di pedesan, disamping penakaran susu kurang tepat sering juga disebabkan karena penyapihan yang terlalu dini. Pada masyarakat yang buta gizi dimana ASI diganti dengan susu botol dengan penakaran yang tidak tepat atau ASI diganti dengan air tajin atau pisang. Infantile malnutrition ini sangat berbahaya karena jumlah sel otak dan juga luas permukaan otak akan terganggu sehingga menyebabkan penurunan kapasitas mental , intelektual dan juga fisik dimasa mendatang.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI 

Beberapa faktor yang berperan dalam pemberian ASI antara lain:

  1. Perubahan sosial budaya

–     Ibu-ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya.

–     Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol.

–     Merasa ketinggalan zaman jika menyusui bayinya.

  1. Faktor psikologis

–     Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita.

–     Tekanan batin.

  1. Faktor fisik ibu

Keadaan ibu yang sakit, misalnya mastitis, panas dan sebagainya.

  1. Faktor kekurangan petugas kesehatan, sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI.
  2. Meningkatnya promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI.
  3. Penerangan yang salah oleh petugas kesehatan yang menganjurkan penggantian ASI dengan susu kaleng.

Pemberian ASI 

Sebagai persiapan menyongsong kelahiran sang bayi, perawatan payudara yang dimulai dari kehamilan bulan ke 7-8 memegang peranan penting dalam menentukan berhasilnya menyusui bayi. Payudara yang terawat akan mempoduksi ASI cukup untk memenuhi kebutuhan bayi. Begitu pula dengan perawatan payudara yang baik, ibu tidak perlu khawatir bentuk payudaranya akan cepat berubah sehingga kurang menarik, juga dengan perawatan payudara yang baik puting tidak akan lecet sewaktu dihisap bayi.

Yang penting dalam menyusui adalah ibu merasa senang dan enak. Bayi dapat disusukan sambil duduk atau tidur. Bayi dapat disusukan pada kedua buah payudara secara bergantian, tiap payudara sekitar 10-15 menit.

Segera teteki atau susui bayi dalam 30 menit setelah bersalin untuk merangsang ASI cepat keluar. Teteki atau susui bayi sesering mungkin dan setiap kali bayi menginginkan sedikitnya 8 kali sehari, pagi, siang maupun malam. Setelah produksi ASI lancar bayi dapat disusui selama 15 menit (jangan lebih dari 20 menit). Dikatakan bahwa jumlah ASI yang terhisap oleh bayi pada 5 menit pertama adalah ± 112 ml, lima menit kedua ± 64 ml dan 5 menit terakhir hanya ± 16 ml.

Dari berbagai sumber