ONG-KARA DALAM BUDAYA BALI

Made Sri Putri Purnamawati*; dan Nyoman Adiputra** * Fakultas Filsafat Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, Bali;**Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Denpasar, BaliAnggota Bali-Human Ecology Study Group (Bali-HESG)E-mail: nadip2003@yahoo.com

Abstrak Ong-kara salah satu jenis huruf Bali, termasuk aksara suci/modre. Adakah fungsi khusus dalam pemakaian Ong- kara tersebut? Studi literatur digabung dengan wawancara terhadap dua pendeta dan dua ilmuwan telah dilakukan. Hasilnya, secara anatomis Ong- kara terdiri dari lima jenis huruf. Penggunaannya dapat dirinci sebagai berikut: 1) Ong- kara dipakai dalam setiap pembuka tulisan lontar; 2) Ong-kara dipakai dalam setiap ucapan selamat (greeting); 3) Ong- kara dipakai dalam setiap puja dan puji atau weda; 4) Ong-kara dipakai sebagai ucapan awal pemujaan/permohonan terhadap Ida Sanghyang Widi. 5) Ong-kara sebagai salah satu wujud dari kaligrafi Bali. Fungsi Ong-kara sebagai wujud Ida Sanghyang Widi; Ong-kara mempunyai peran dan fungsi yang sakral. Dalam pengobatan Ong-kara diyakini mempunyai fungsi magis dan gaib, sebagai perwujudan dari Ida Sanghyang Widi. Dapat disimpulkan bahwa Ong-kara dalam budaya Bali mempunyai fungsi khusus dan dianggap sebagai huruf modre yang sakral. Kata-kata kunci: ong-kara, modre, fungsi

Abstract ONG-KARA IN BALINESE CULTURE Ong-kara is a kind of modre, a Balinese sacral letter. What is the function of Ong- kara? To elaborate the function of Ong- kara a literature study combined with discussion with two holy priests and two scientists were conducted. The results found are as the followings: anatomically Ong-kara composes of five letters. The use of Ong-kara are as te followings: 1) Ong-kara always used in the beginning of lontar writings; 2) Ong-kara used in every greeting; 3) Ong-kara always use for every praying or secret songs; 4) used for every starting point of praying process to the God; 5) Ong-kara as one of the Balinese calligraphy. The function of Ong-kara as a symbol of the God. Ong-kara in Balinese society is very sacral. In the traditional healing, Ong-kara is considered as magical function and as a symbol of the God. Therefore, it is concluded that Ong-kara in Balinese culture has special function as a modre letter which is sacral one. Key words: ong-kara, modre, and function.

Pendahuluan

Keberadaan bahasa Bali sebagai pendukung budaya Bali sudah tidak diragukan lagi. Bahasa Bali dibentuk oleh adanya aksara Bali (Simpen, tt; Tinggen, 1994). Memang aksara Bali merupakan turunan dari huruf Pallawa dari India. Huruf Bali serumpun dengan huruf Jawa, dan huruf-huruf di kawasan Indo Cina. Dengan keberadaan huruf Bali tersebut maka sejak lama telah mampu didokumentasikan beberapa karya atau produk olah-pikiran orang-orang di Bali, menunjang preservasi budaya, dan melancarkan komunikasi horizontal dan vertical (Nala, 1991). Hal itu dapat dilihat dari warisan karya tulis seperti kakawin, lontar usada, serta lontar yang memuat berbagai pengetahuan tradisional lainnya.Dalam perjalanan waktu dan sebagai akibat dari pembangunan, generasi muda dirasakan kurang peduli terhadap bahasa Bali (Sutjiati, 1999). Dalam kehidupan sehari-hari khusunya di perkotaan bahasa Bali semakin menurun pemakaiannya (Adiputra, 2002). Beberapa bentuk kesalahan tulis dalam pemakaian aksara Bali telah diketemukan di lapangan (Adiputra, 2004). Hal itu sebenarnya tidak usah terjadi kalau kepedulian terhadap aksara dan bahasa Bali ada pada setiap insan orang Bali. Di pedesaan tentunya akan berlainan; tidak seperti di perkotaan; pemakaian bahasa Indonesia dan bahkan bahasa asing sepertinya lebih menonjol daripada bahasa Bali.Huruf Bali dikenal ada tiga jenis, yaitu huruf wre-astra, swalalita, dan modre yang disakralkan (Nala, 1991; Tingen,1994; Nyoka, 1994; Simpen, tt; Tonjaya, 2000). Ketiga jenis huruf tersebut pemakaiannya juga sangat berlainan. Aksara wre-astra digunakan dalam penulisan berita sehari-hari dan bersifat umum. Aksara tersebut dapat diajarkan kepada setiap orang. Sedangkan aksara swalalita terdiri dari dua huruf yaitu ang-ah ( ) tidak dapat diajarkan secara sembarangan kepada semua orang. Untuk aksara modre huruf yang secara khusus untuk penulisan pengetahuan yang suci seperti mantram, weda, dan sejenisnya (Simpen,1994, Tinggen, 1994). Ongkara termasuk dalam butir ketiga, yaitu modre. Ciri modre ialah huruf wresastra diberikan beberapa hiasan/asesoris sehingga menjadi modre (Nala, 1991; Nala dan Wiriatmadja, 1991). Ong-kara dalam beberapa sumber tertulis identik dengan nama lainnya, seperti pranawa, visva, ghosa, ekaaksara, dan tumburu- tiraksaraangga (Soebadio, 1971). Karena itu maka ong-kara dalam budaya Bali diasumsikan mempunyai peran yang penting dan berlaku bagi masyarakat Bali. Untuk membuktikan hal itu sebuah studi telah dilaksanakan.

Materi dan Metode

Subjek. Sebagai subjek dalam kajian ini ialah Ong-kara dalam aksara Bali. Metode. Penelusuran aksara Ong-kara melalui kajian pustaka, kemudian dilakukan wawancara terhadap dua pendeta dan dua ilmuwan Bali. Wawancara dilakukan secara bebas. Analisis hasil dilakukan secara deskriptif, mengenai struktur, dan fungsi Ong-kara. Hasil-hasil dan PembahasanAnatomis Ong-karaOng-kara tersusun dari empat macam huruf, yaitu: angka tiga ( ), windu ( ), arda-candra ( ), dan nada ( ). Perpaduan dari keempatnya itu menjadikan dia ong-kara .(Soebadio, 1971). Di bawah ini diuraikan beberapa jenis ong-kara yang dikenal masyarakat Bali. Jenis Ong-karaOng-kara dikenal beberapa bentuknya, seperti ong-kara ngadeg (berdiri), ong-kara sumungsang (terbalik), ong-kara padu muka (bertemu muka) (Nala, 1991; Ginarsa, tt). Gambar dari jenis ong-kara tersebut adalah sebagai berikut. Ong-kara ngadeg: Ong-kara sumungsang: Ong-kara padu muka: Ong-kara ngadeg ini dalam tubuh berada di ubun-ubun atau siwadwara. Disitu juga letak chakra sahasrara (Nala, 1991). Di sinilah Sanghyang Wenang bersemayam; atau melalui lubang inilah atma keluar masuk. Ong-kara sumungsang selalu berpasangan sehingga membentuk satu kesatuan dengan dua ong-kara. Posisinya bisa satu di atas dan satu di bawahnya, atau secara horizontal satu di kiri satu di kanan. Ong-kara sumungsang dalam tubuh berada di dada, sebagai lambang persatuan antara bapak dan ibu (purusa –predana) atau kekuatan positif dan negatif. Sedangkan untuk ong-kara padu muka (posisi horizontal) dalam badan terletak di alis, sebagai wujud dari udara dan angin.Jenis-jenis ong- kara tersebut mempunyai fungsi khusus sesuai dengan peruntukannya. Tentunya hal itu tidak dapat dicampur-baurkan antara yang satu dengan yang lainnya.Ada juga disebut sebagai Sapta Ong-kara (Soebadio, 1971). Sapta Ong-kara disini berarti kekuatan api dalam tubuh. Sapta Ong-kara berhubungan dengan Sapta-atma dan dengan Sapta-dewata dengan tujuh warna-Nya. Anatomi dari Sapta Ong-kara terdiri dari A-kara, U-kara, Ma-kara, O-kara, arda-candra, windu, dan nada. Tempatnya dalam tubuh adalah:A-kara di pusar, warna merah, dewanya Brahma, perwujudan atma; sifatnya jaga;U-kara di jantung (papusuh), warnanya hitam, dewanya Wisnu, perwujudan antaratma; sifatnya tidur;Ma-kara di tenggorokan, warnya putih, dewanya Iswara, perwujudan paramatma, sifat tidur lelap;O-kara di tujuh lubang tubuh, warna kuning, dewanya Mahadewa, perwujudan niratma, sifatnya turya;Arda-candra di antara alis, warna seperti matahari, dewanya Rudra, perwujudan atyatma, sifatnya turyanta;Windu di tangan, tidak tersifat, dewanya Sada Siwa, perwujudan niskalatma, sifatnya tanpa titik;Nada di kepala, tidak aktif, dewanya Parama Siwa, perwujudan sunyatma, tidak tersuratkan.

Penggunaan Ong-KaraOng-kara dipergunakan untuk beberapa aspek, yaitu: 1) sebagai tulisan pembuka/ permulaan dalam lontar. Kalau kita baca setiap lontar akan tampak ucapan paling dahulu ialah ada ong-kara yang disambung dengan awignamastu. Ong-kara digunakan sebagai pembuka kata yang artinya memohon berkah kepada Tuhan/Ida Sanghyang Widi semoga selamat; hal itu didapatkan pada lontar kekawin, usadha, atau pengetahuan lainnya (Disbud bali, 2001)2) dipergunakan untuk memberikan ucapan selamat, misalnya Om swastiastu, Om santi, santi, santi, Om. Yang intinya juga sebagai permohonan kepada Ida Sanghyang Widi semoga selamat atau bahagia; hampir di semua naskah didapatkan pemakaian Ong-kara seperti itu;3) Ong-kara juga dipergunakan dalam setiap puja dan puji kehadapan Tuhan. Dalam setiap permulaan doa, serta akhir dari suatu doa selalu ada ong-kara. Misalnya permulaan: Om swastiastu; akhir doa: Om namasiwaya;4) Ong-kara sebagai representasi dari Hyang Widi; Ong-kara = Siwa (Soebadio, 1971; Hooykaas, 1973); sering dipakai dalam bentuk dalam pengobatan tradisional. Ong-kara dituliskan di tempat yang sakit dengan memakai sarana tertentu, seperti kapur dengan alat tulisnya tangkai daun sirih (katik base), atau air cendana (asaban cenana) yang ditorehkan di daerah yang sakit dengan menggunakan jari telunjuk. Cara tersebut diyakini mempunyai pengaruh penyembuhan; atau juga disuratkan di gigi atau lidah, dengan tujuan memberikan kewibawaan terhadap si apapun yang diajak bicara; bisa juga Ong-kara disuratkan pada peralatan kerja untuk memperoleh nilai magis suatu produksi kerja, misalnya dalam lontar usadha menyarankan seperti itu;5) dalam setiap permohonan kehadapan Tuhan selalu disertai Ong-kara. Mungkin hal itu sebagai wujud dari penekanan kembali dari butir tiga di atas; dan 6) ong-kara sebagai bentuk kaligrafi Hindu. Kaligrafi adalah salah satu unsur berkesenian dalam budaya Hindu. Keindahan bentuk dari keempat jenis huruf dimaksudkan bukan saja berfungsi sesuai dengan yang diinginkan tetapi juga indah dipandang mata; karenanya wujud tersebut dapat bervariasi sesuai dengan selera keindahan si penulisnya. Hal itu misalnya dapat ditelusuri dalam wujud kaligrafi dasa bayu (Soebadio, 1971); atau kaligrafi Ong-kara tersendiri.

Ong-Kara sebagai kaligrafi Bali?Dalam tulisan ini ong-kara diasumsikan sebagai salah satu bentuk kaligrafi Bali. Paling tidak merupakan bagian dari bentuk kaligrafi Bali. Di bawah ini disajikan kaligrafi yang dimaksud. Bentuk kaligrafi Ong- kara tersebut sudah dijual sebagai pertanda tali kasih dalam gerakan dana punia pembangunan pura di daerah Jawa tengah. Setiap orang yang bersedia menjadi donatur dalam jumlah tertentu, mendapatkan sebuah bentuk kaligrafi. Kaligrafi tersebut dapat dipasang di dinding atau tembok. Gambarnya berupa Ong-kara dengan diberi bingkai berbentuk segi lima. Diharapkan dengan menggantung kaligrafi tersebut, didapatkan vibrasi kerohanian yang tentunya akan memberikan dampak kepada semua isi rumah dimana kaligrafi itu berada. Logikanya, setiap individu melihat kaligrafi tersebut akan membaca dan melafalkannya menjadi Ong. Itulah wujud nyata dari pemasangan kaligrafi tersebut. Gambarnya sebagai berikut:

Ong-kara dalam Dasa Bayu Dalam kaligrafi Dasa Bayu (Soebadio, 1971), secara artistik disusun sedemikian rupa bahwa tampak ada unsur ong-kara pada bagian puncak kaligrafi. Angka tiga sebagai puncak kaligrafi adalah badan dari ong- kara. Ujung kaki dari angka tiga dibuat panjang menjulur ke bawah, seolah-olah tempat tulisan indah lainnya bergelantungan. Memang komposisi kaligrafi Dasa bayu tersebut sangat seni, indah dan informatif. Masih diperlukan adanya kemampuan intelektual untuk membuka kunci-kunci penting dari kaligrafi tersebut sehinggga ia menjadi berbunyi.Yang penting di dalam kaligrafi Dasa Bayu tersebut salah satu unsurnya adalah Ong-kara. Jadi Ong-kara menyusun Dasa Bayu. Ong-kara sendiri, seperti sudah diuraikan di atas tersusun oleh empat unsur aksara Bali.

Dari uraian di atas dapat ditarik butir simpulan sebagai berikut: 1) Ong-kara bagian dari aksara Bali; 2) Ong-kara tergolong aksara modre; 3) Ong-kara disusun oleh empat macam aksara , yaitu nada, windu, arda-candra, dan angka tiga; 4) dikenal ada empat macam Ong-kara, yaitu Ong-kara ngadeg, ong-kara sumungsang, ong-kara padu muka, dan Sapta Ong-kara; 5) secara fungsional Ong-kara mempunyai enam fungsi (pembuka tulisan, ucapan selamat, sarana puja dan puji Ida Sanghyang Widi, representasi Sanghyang Widi, setiap permohonan kepada Sanghyang Widi, dan sebagai kaligrafi).

Daftar Kepustakaan

Adiputra, N. 2004. The Magical Aspect of Aksara Bali. Majalah Dinamika Kebudayaan.Vol. VI, No.1, 2004. Adiputra, N. 2002. Aksara Bali in the Changing world. Proceeding of the International Seminar on Culture in the Changing World; joint seminar between the University of Anti Och, Seatle USA with the Bali-HESG, School of Medicine Udayana University, Denpasar. Nala, N. Usada Bali. 1991. Penerbit Upada Sastra. Denpasar. Nala, N. dan Wiriatmadja, IGK.1991. Murddha Agama Hindu. Penerbit Upada sastra. Denpasar.

Haryati Soebadio. 1971. JNANASIDDHANTA. Bibliotheca Indonesica. Koninklijk Instituut Voor Taal-, Land- en Volkenkunde. 7. The Hague – Martinus Nijhoff. Hooykaas, C. 1973. BALINESE BAUDDHA BRAHMANS. Verhandelingen der Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen, afd Letterkunde Nieuwe Reeks, Deel 80. North Holland Publishing Company- Amsterdam.

Ginarsa, K. Tt. Gambar lambang. Proyek Pemeliharaan dan Pengembangan Kebudayaan Daerah Bali. Yayasan Darma Budaya. Nyoka. 1994. KRAKAH MODRE II. Percetakan dan Toko buku RIA. Denpasar. Tonjaya, N.N. 2000. TUMBAL RERAJAHAN. Penerbit dan Toko Buku RIA. Denpasar

Tinggen, I N. 1994. Celah-celah Kunci Pasang Aksara Bali. Penerbit Rhika Dewata Singaraja. Simpen, W. tt. Pasang Aksara Bali. Upada Sastra. Denpasar Dinas Kebudayaan Propinsi Bali. 2001. Kekawin Arjuna Wijaya lan teges ipun.