Tags

, ,

Ilmu pengetahuan, sastra, dan agama adalah anugrah yang diberikan Tuhan sebagai bekal dan tuntunan jalan hidup untuk manusia dalam mengarungi kehidupan ini. Apa sebenarnya tujuan kita hidup di dunia ini? Apakah anda pernah berpikir sejauh itu? Tentu akan bingung kemana arah kita melangkah seperti perahu dalam mengarungi samudra yang luas. Dalam mengarungi samudra yang luas tersebut tentu salah satu pulau menjadi tujuan kita. Untuk mencapai tujuan tersebut mutlak perlu tuntunan seorang nahkoda, arah angin dan perahu. Begitu pula kita hidup di dunia pasti tentunya memiliki tujuan dan agama adalah penuntunnya. Dalam setiap agama tentunya ada kepribadian yang Maha Tinggi yang menciptakan segala yang ada dan mengatur apa yang terjadi di alam semesta ini. Semua agama mempunyai tujuan untuk mencapai kebahagian yang tertuju kepada-Nya.

Sebagaimana wujud kepribadian Tuhan yang tak dapat kita lihat dengan mata telanjang kita, Beliau Yang Esa dan tak terpikirkan. Kepribadian yang tak terpikirkan tersebut, sangat susah dalam memusatkan pikiran kita bagaimana kepribadian Beliau. Oleh karena itu, dalam sastra agama diuraikan simbol-simbol yang gunanya sebagai alat untuk memusatkan pikiran menuju kepada-Nya. Tentunya simbol-simbol tersebut bukan sembarang simbol, memiliki makna dan arti yang sangat religius.

Khususnya dalam agama Hindu, kita banyak mengenal symbol keagamaan seperti swastika, tapak dara, Ong-Kara dan lain sebagainya. Symbol yang bersifat universal salah satunya adalah swastika. Selain di Hindu, swastika juga dikenal di dalam agama Budha, namun ada perbedaan arah putaran swastika tersebut. Pernakah anda melihat symbol swatika digunakan untuk kepentingan yang lainnya? Tentu tidak asing dengan Hitler yang menggunakan lambang swastika ini sebagai lambang partai Nazinya yang tujuannya untuk menggemparkan dunia dan anti Yahudi.

Swastika (卐 ataupun 卍) merupakan salah satu simbol yang paling disucikan dalam tradisi Hindu, merupakan contoh nyata tentang sebuah simbol religius yang memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang kompleks sehingga hampir mustahil untuk dinyatakan sebagai kreasi atau milik sebuah bangsa atau kepercayaan tertentu.

Diyakini sebagai salah satu simbol tertua di dunia, telah ada sekitar 4000 tahun lalu (berdasarkan temuan pada makam di Aladja-hoyuk, Turki), berbagai variasi Swastika dapat ditemukan pada tinggalan-tinggalan arkeologis ( koin, keramik, senjata, perhiasan atau pun altar keagamaan) yang tersebar pada wilayah geografis yang amat luas.

Wilayah geografis tersebut mencakup Turki, Yunani, Kreta, Cyprus, Italia, Persia, Mesir, Babilonia, Mesopotamia, India, Tibet, China, Jepang, negara-negara Skandinavia dan Slavia, Jerman hingga Amerika.

Kata Swastika terdiri dari kata Su yang berarti baik, kata Asti yang berarti adalah dan akhiran Ka yang membentuk kata sifat menjadi kata benda. Sehingga lambang Swastika merupakan bentuk simbol atau gambar dari terapan kata Swastyastu (Semoga dalam keadaan baik).

Simbol ini, yang dikenal dengan berbagai nama seperti misalnya Tetragammadion di Yunani atau Fylfot di Inggris, menempati posisi penting dalam kepercayaan maupun kebudayaan bangsa-bangsa kuno, seperti bangsa Troya, Hittite, Celtic serta Teutonic. Simbol ini dapat ditemukan pada kuil-kuil Hindu, Jaina dan Buddha maupun gereja-gereja Kristen (Gereja St. Sophia di Kiev, Ukrainia, Basilika St. Ambrose, Milan, serta Katedral Amiens, Prancis), mesjid-mesjid Islam ( di Ishafan, Iran dan Mesjid Taynal, Lebanon) serta sinagog Yahudi Ein Gedi di Yudea.

Melihat uraian di atas tentunya kita dapat mengira bahwa lambang swastika merupakan lambang alam semesta dan perputarannya. Kalau kita lihat dasar lambang swastika adalah persilangan dua garis yang berbeda koordinat cartiseus sebagaimana kita kenal dalam ilmu matematika dahulu. Karena perputaran yang searah jarum jam/ ke kanan, maka bisa ditarik garis searah jarum jam di masing-masing ujung garis, sehingga terbentuklah lambang swastika tersebut dan seolah-olah berputar kea rah kanan.

Menurut svami Ajarananda, bahwa bentuk asli dari Swastika adalah garis bersilang sama tengah tetapi perkembangannya menjadi swastika. Kata swastika jauh sebelum Budha lahir sudah dipergunakan sebagai lambang keagamaan negeri India dan Tiongkok, sekurang-kurangnya 10 abad sebelum munculnya agama Kristen. Jadi kalau demikian dapat disimpulkan bahwa tanda salib umat Kristen yang dihubungkan dengan penyaliban Yesus dari Nazareth, mungkin berasal dari dari bentuk swastika, yaitu dua garis silang tadi. Garis silang ini, di bali disebut dengan tapak dara, yang mitologinya terdapat dalam lontar Catur Bhumi. Disebut denga tampak dara karena kaki burung dara atau burung merpati tepat menyerupai bentuk garis silang tadi. Garis silang pada tapak dara tersebut pada zaman dahulu digunakan sebagai penawar atau penangkal malapetaka.

Selain tersebut diatas sebagai symbol perputaran kerja alam semesta, symbol ini dapat dikaitkan dengan waktu perputaran jaman pada alam semesta tersebut. Dalam konsep Hindu kita kenal dengan empat jaman yaitu Catur Yuga. Adapun zaman tersebut  secara berturut-turut berputar searah jarum jam adalah zaman Kerta Yuga, Treta Yuga, Dvapara Yuga dan Kali Yuga.

Dalam perputaran ini, kita mengenal dualisme yang tak bisa kita pungkiri seperti purusa-prakrti, pagi-sore, siang-malam, hidup-mati, masa kini-masa lalu, pria-wanita dan lain sebaginya. Sifat yang berpasangan ini, dalam Hinduisme di Bali disebut sebagi konsep Rwa Bhineda sebagai kekuatan memutar alam semesta ini. Sifat rwa bhineda ini terus berputar dan demikian seterusnya yang biasa disebut drama kosmis atau siklus kosmis, hal mana digambarkan amat sempurna oleh lambang swastika, yang di dalamnya terdapat kwadran-kwadran episode Catur Yuga. Nama pada setiap petak itu menggambarkan perwatakan-perwatakan dari kehidupan, yaitu kwadran I menunjukkan keadaan dimana suasana kebahagiaan dan tidak ada kesedihan dimana dharma sangat dijunjung tinggi pada jaman Kerta yuga.

Kalau kita lihat swastika merupakan cakra teratai alam semesta (bhuana agung) yang berputar sebagaimana pada kehidupan manusia (bhuana alit). Roh alam semesta itu sendiri adalah Hyang Widhi/ Tuhan Yang Maha Esa yang dilambangkan dengan Swastika tersebut. Sedangkan pada mahkluk ciptaannya, rohnya adalah sang Atman, karena sesunggunhnya Brahman dan Atman adalah identik, atman adalah bagian percikan suci/ hanya seberkas sinar dari matahari Brahman.

Inilah hanya serangkaian tulisan yang menghilangkan budaya nak mule keto di Bali. Buat apa kita hanya tahu dan bisa menggambarkan Swastika tanpa tahu makna dan nilai tinggi yang terkandung di dalamnya. Dengan mengetahuinya kita dapat lebih mendekatkan diri kepada kepribadian yang sangat Agung, Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa.